Property Outlook 2018: Pasar Bergerak Positif

Property Outlook 2018: Pasar Bergerak Positif

Menurut pengamat Property Outlook 2018, harga properti berpeluang naik hingga 5%, sementara suplai hunian berpeluang meningkat hingga 20%. Salah satu indikator pendukungnya adalah kebijakan Pemerintah.

kemampuan pemerintah untuk mendorong ekonomi nasional ke arah yang lebih positif setelah terkena dampak ekonomi global pada semester kedua 2016, periode politik yang menghangat pada akhir 2016 hingga awal 2017, serta inflasi pada Hari Raya Idul Fitri 2017 terbukti mampu menjaga optimisme pasar properti.

Kebijakan pemerintah dalam pembiayaan perumahan masih akan menjadi penentu pasar properti di 2018. Harga dan suplai properti, terutama pada sektor residensial, diperkirakan meningkat pada 2018. Permintaan pasar akan tetap stabil, terutama pada pasar properti dibawah 1 milyar.

Proyek properti baru yang menawarkan kemudahan akses, transportasi publik, serta jaminan keamanan akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli properti tersebut.

Sejumlah kebijakan pemerintah lainnya seperti BI 7-Day Repo Rate, Tax Amnesty, Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Paket Kebijakan Ekonomi, dan lainnya mendorong pertumbuhan properti nasional, yang sempat turun tajam pada tahun 2016 lalu.

Suplai dan Harga Properti

Dari catatan Rumah.com Property Index 2017, menunjukkan bahwa indeks properti nasional naik tipis 0,4% pada Q1 2017 (q-o-q) dan berlanjut pada Q2 tumbuh sebesar 0,97% (q-o-q). Pada Q3, pasar properti terlihat stabil.

Pasar properti menunjukkan tanda-tanda pemulihan tetapi penjual masih memperhatikan daya beli konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa pasar properti sedang berada pada fase ‘soft market‘.

Rumah.com Property Outlook 2018

Meski belum menyamai puncak harga properti yang terjadi di Q4 2016, tren harga properti sudah menunjukkan pemulihan.

Sementara di sisi volume suplai properti, indeks menunjukkan sedikit fluktuasi dimana pada Q1 mencatat kenaikan sebesar 11,4% (q-o-q), selanjutnya mengalami penurunan sebesar 2,1% pada Q2 2017 (q-o-q).

Pada Q3 2017 suplai pulih dan meningkat hingga sebesar 10,7% (q-o-q). Secara year-on-year, kenaikan pada Q3 2017 mencapai 23%.

Peningkatan suplai properti ini mengindikasikan bahwa penjual lebih percaya diri dengan situasi pasar properti pada Q3. Semakin banyaknya suplai membuat konsumen semakin mudah menentukan pilihan residensial, baik berdasarkan lokasi, harga, dan jenisnya.

Rumah.com Property Market 2018

Tren lonjakan suplai diprediksi terus berlanjut di 2018.

Perilaku Konsumen Properti

Di sisi perilaku konsumen, Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2-2017 mencatat berbagai isu terkait properti:

  • Kepemilikan rumah bukanlah hal yang ekslusif lagi, karena 69% responden mengaku sudah memiliki rumah dan 29% di antaranya memiliki lebih dari satu rumah.
  • Properti, khususnya residensial, yang diminati masih berkisar pada properti kelas menengah, dengan sistem pembayaran yang diminati adalah cicilan jangka panjang.
  • Iklim properti nasional di tahun 2017 memuaskan, dinyatakan oleh 63% responden, sementara 54% responden mengaku puas dengan usaha pemerintah untuk membuat harga rumah lebih terjangkau.
  • Rmah tapak cluster sebagai pilihan tipe properti yang akan dibeli, dinyatakan oleh 97% responden. Sementara rumah tapak cluster (perumahan) dianggap lebih aman dibandingkan apartemen ataupun rumah non-cluster.
  • Apartemen sebagai pilihan tipe rumah yang akan dibeli, dinyatakan oleh 57% responden. Jumlah ini meningkat 35% dari survei semester kedua 2016.
  • Jabodetabek masih menjadi lokasi incaran bagi responden yang membeli rumah, dengan Jakarta berada pada posisi teratas, disusul Bogor. Di luar Jabodetabek, Bandung menjadi kota favorit, selanjutnya Surabaya, dan Semarang.

Namun masih ada hal-hal yang perlu ditingkatkan oleh pemerintah untuk mendorong lebih banyak masyarakat membeli rumah. Di antaranya adalah:

  • Proses pengajuan cicilan KPR masih terlalu rumit, dinyatakan oleh 86% responden
  • Uang muka yang terlalu tinggi sehingga belum berencana mengambil cicilan rumah, dinyatakan oleh 51% responden
  • Kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) membuat harga properti melambung, dinyatakan oleh 51% responden

Berdasarkan data pencarian di portal Rumah.com, DKI Jakarta adalah provinsi dengan jumlah pencarian properti residensial terbanyak, diikuti oleh Jawa Barat dan Banten.

Suplai

Kebijakan-kebijakan Pemerintah berdampak positif pada optimisme terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,2%. Kondisi ekonomi diperkirakan akan stabil hingga akhir tahun jika Pemerintah tetap konsisten menjalankan kebijakan yang berlaku.

Mengamati data Rumah.com Property Index dan data nasional, pasar properti nasional di tahun 2018 akan lebih positif, melanjutkan tren yang telah terbentuk sepanjang kuartal pertama 2017. Hal yang perlu diantisipasi adalah peristiwa tahunan (Natal, libur akhir tahun, dan Idul Fitri) dan peristiwa politik (Pilkada 2018 dan menjelang Pemilihan Presiden 2019).

  • Pasar properti Indonesia berada pada fase ‘soft market’ atau fase pemulihan. Optimisme penjual mulai pulih, namun harga yang diharapkan oleh penjual masih cukup sesuai dengan ekspektasi pembeli.
  • Perlambatan pasar properti pada pertengahan 2018 sebagai dampak Hari Raya Idul Fitri serta Pilkada 2018 mungkin terjadi, begitu juga menjelang Pemilihan Presiden 2019. Dua faktor ini juga akan berpengaruh pada minat beli konsumen.
  • com Property Price Index diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pada kisaran 3-5% (y-o-y) pada akhir 2018.
  • com Property Supply Index diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pada kisaran 15-20% (y-o-y) pada akhir 2018.

Permintaan

Mayoritas masyarakat merasa puas dengan upaya Pemerintah menyediakan hunian dengan harga terjangkau. Meski demikian, berbelitnya proses pengurusan KPR bisa menjadi penahan laju pasar properti nasional.

Manfaat Bantuan Pembiayaan Perumahan dari BPJS Ketenagakerjaan dapat mendorong orang untuk memiliki rumah. Kemampuan BPJS menarik minat masyarakat dapat berdampak pada pertumbuhan pasar properti, terutama pada kisaran harga Rp300.000.000 hingga Rp500.000.000.

  • Kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah membuat optimisme konsumen dalam membeli rumah pada 2018 masih tetap tinggi.
  • Porsi permintaan terbesar akan datang dari rumah tipe menengah dengan harga di bawah Rp700.000.000.
  • Konsumen akan mencari hunian tipe perumahan tertutup, terutama di wilayah satelit kota besar dengan akses menuju pintu tol dan sarana transportasi massal.
  • Seiring meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap hunian vertikal, permintaan terhadap apartemen diperkirakan meningkat secara moderat.

Berdasarkan tingkat kota, Jakarta Selatan adalah kawasan yang paling diincar konsumen, selanjutnya adalah Tangerang, Bandung, Bekasi, dan Jakarta Barat. 

sumber: Rumah.com